{"id":2056,"date":"2023-11-28T00:58:29","date_gmt":"2023-11-28T00:58:29","guid":{"rendered":"http:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/?p=2056"},"modified":"2023-11-28T01:23:32","modified_gmt":"2023-11-28T01:23:32","slug":"2056","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/2023\/11\/28\/2056\/","title":{"rendered":"Gunung Slamet"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/gunung-slamet.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2053\" width=\"274\" height=\"382\" srcset=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/gunung-slamet.jpg 466w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/gunung-slamet-215x300.jpg 215w\" sizes=\"auto, (max-width: 274px) 100vw, 274px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>GUNUNG SLAMET<br>Oleh Sitimdana<br>\u201cWuedan kamu No, malah ngajak mendaki neng Gunung Slamet, medeni lho iku,<br>buanyak mitos neng kono,\u201d ucapku dengan membesarkan kedua bola mata.<br>\u201cWeh Din, mitos to goran? Hallah, kita ini cowo, aman yo, lagian koe iso percoyo<br>ngono, opo kamu wes tau rono?\u201d<br>Aku menggelengkan kepalaku.<br>\u201cLho, makane rono sek to, gek ben ngerti mitos tenan opo ora,\u201d<br>Aku terdiam, masih memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Rino. Memang hanya<br>mitos, tetapi tak banyak kan mitos-mitos yang benar terjadi? Apalagi, aku sering melihat<br>pengalaman para pendaki yang mengunjungi Gunung Slamet bahwa mereka melihat sosoksosok aneh di sana. Aku mengangkat kedua bibirku, tak apa, ini akan menjadi pengalaman<br>mendaki yang ekstrem dalam hidupku, setidaknya memang harus dicoba satu kali seumur<br>hidup.<br>\u201cKepie Din, gelem ora?\u201d Tanya Rino memastikan.<br>\u201cYowes lah, rapopo, dinggo pengalaman juga,\u201d<br>Rino tersenyum, dia terlihat lega karena aku ingin ikut mendaki di sana bersama dia<br>dan teman-teman lainnya. Ia menepuk pundakku berkali-kali, tidak, tidak sakit. Ini hanya<br>tepukan biasa sebagai tanda keakraban seorang teman.<br>\u201cNah, gitu lohh, ngono baru laki,\u201d Godanya.<br>Aku hanya membalas senyuman kecil, dan melanjutkan perencanaan berangkat<br>mendaki ke Gunung Slamet bersamanya. Jika dipikir-pikir memang sudah lama kita tidak<br>mendaki karena tugas sekolah yang menumpuk, seakan tidak pernah selesai. Kita akan<br>mendaki pada musim liburan tiba, sebentar lagi, hanya tinggal satu\u2026 minggu\u2026<br>Lagi\u2026<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p>Hangatnya matahari pagi ini, menembus kulit terluarku, kini aku menggendong tas<br>besar yang biasa digunakan oleh pendaki pada umumnya. Aku mengamati rumahku dari luar<br>setelah mencium punggung tangan ibuku. Aku tersenyum, menghela nafas dengan pelan,<br>pikiranku kalut, masih dipenuhi dengan kecemasan yang menggebu-gebu. Ditambah lagi,<br>setelah aku melihat senyum ibuku, takut jika tidak bisa kembali lagi.<br>Tidak, aku menggelengkan kepalaku. Aku memiliki prinsip, bahwa jika berpikiran<br>negatif, yang terjadi juga akan seperti itu. Aku akan mencoba untuk berpikir positif, semua<br>akan baik-baik saja.<br>Mungkin\u2026<br>\u201cNgatos-atos le,\u201d ucap Ibuku dengan melambaikan tangannya kepadaku.<br>Aku membalas lambaian tangan Ibu, dan beranjak menaiki mesin kuda. Aku harus<br>segera ke rumah Rino untuk melakukan perjalanan ke Gunung Slamet, agar sampai di sana<br>tidak terlalu sore. Mengingat jarak ke Gunung tersebut sangat jauh.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p>Aku melihat pemandangan yang terbatas oleh kaca bening, hanya terlihat pepohonan<br>di sini, itu menandakan kita sudah memasuki area pegunungan. Tidak seperti di tempatku yang<br>terdengar suara kendaraan kesana-kemari, di sini sunyi, hanya terdengar suara burung<br>berkicauan dan suara dedaunan pohon yang saling bergesekan satu sama lain.<br>\u201cSepi yo,\u201d ucap Udin membuka suara.<br>Mobil sedari tadi sunyi, hanya terdengar suara musik yang disetel oleh Rino, mungkin<br>ia berniat untuk memecahkan kesunyian di antara kami.<br>\u201cJenenge wae neng hutan Din, Udin,\u201d<br>Aku terkekeh mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Dika, terdengar konyol di<br>telingaku. Lagian Udin juga aneh, mengapa dia bertanya kalimat retoris tersebut?<br>\u201cIseh adoh ora e No? Jan, nganti pegel iki bokongku,\u201d bukan bertanya kalimat retoris,<br>kali ini Udin menggerutu karena tidak sampai juga pada tempatnya.<br>\u201cIni kayaknya sebentar lagi sampai Din,\u201d jawab Rino<br>Aku, Rino, Dika dan Udin terhuyung ke depan akibat hukum Newton I yang terjadi<br>baru saja, mobil tiba-tiba terhenti. Apakah sudah sampai? Mengapa Rino menghentikan<br>mobilnya.<br>\u201cKamu berhentiin mobil No?\u201d tanyaku<br>Rino menoleh ke arahku dan menggelengkan kepala<br>\u201cKayaknya mogok Din,\u201d<br>\u201cWadoh, mana neng tengah hutan iki, ra ono bengkel, gek kepie iki?\u201d tanya Udin<br>dengan wajah yang terlihat cemas.<br>\u201cIki tinggal sekitar 150 meter seko kene, mlaku wae ayo!\u201d ajak Rino<br>\u201cWalah, lagi Posisi Wuenak e aku iki No,\u201d ucap Dika<br>Aku melirik ke arah Rino sejenak \u201cWes, gak papa sekalian pemanasan sebelum<br>mendaki kan?\u201d aku terkekeh setelah mengucapkan kalimat itu.<br>\u201cHooh e Dik, kamu itu kakehan sambat,\u201d ucap Udin<br>\u201cHalahh Din, sejak tadi di mobil siapa yang sambat? Kamu ini,\u201d<br>Lagi-lagi aku tertawa karena ulah Udin dan Dika, mereka ini benar-benar seperti<br>kembar tapi tidak seiras. Aku menjadi curiga, mereka sebenarnya satu rahim di alam dahulu.<br>\u201cNgopo e, Aldin dari tadi ketawa terus?\u201d ucap Rino<br>Aku menggelengkan kepalaku, dan merangkul Rino serta Udin, karena memang<br>posisinya aku sedang berada di tengah-tengah mereka pada saat ini.<br>\u201cNdak kemalaman, gek ayo mlaku saiki bolo,\u201d Ajakku dan berjalan mendahului mereka<br>bertiga.<br>Kini aku bersama dengan teman-teman sudah sampai di depan gerbang masuk<br>pendakian Gunung Slamet. Hawanya terasa berbeda, entah lah, jika diminta untuk<br>mendeskripsikannya, sejujurnya aku pun tidak tahu harus menjelaskannya dengan gaya apa.<br>\u201cAku pergi ke toilet dulu sebentar nggih,\u201d<br>Aku melangkahkan kakiku setelah teman-temanku mengangguk atas perizinanku.<br>Toilet berada tak jauh dari gerbang masuk pendakian. Seperti pada perjalanan tadi, di sini terasa<br>sangat sunyi. Aku memakluminya karena hal seperti ini sudah sering terjadi saat mendaki.<br>Bukankah memang kita mendaki pada alam bebas bersama makhluk lain yang berwujud<br>maupun tidak itu? Tetapi, kali ini\u2026 aku merasakan hal yang berbeda saat berada disini.<br>Aku masuk ke dalam kamar mandi setelah melantunkan doa. Tak lama, karena aku<br>hanya membuang air kecil. Aku membuka pintu kamar mandi, disambut oleh punggung sosok<br>perempuan. Ia terlihat sedang menimba air sumur yang jaraknya tidak jauh dari kamar mandi.<br>Rambutnya lurus indah bergerai, ia mengenakan baju berwarna cokelat tua, serta memakai jarik<br>sebagai rok yang dikenakan.<br>Ia menolehkan kepalanya, menghadap ke arahku. Aku tersenyum padanya, sebagai<br>sapaan, ku pikir tidak ada orang yang tinggal di sekitar sini, ternyata ada. Wajahnya putih pucat,<br>cantik walaupun tertutup oleh luka bakar yang memenuhi pipi kanan miliknya. Aku mengambil<br>tas yang ada pada kursi, berniat untuk mengajak perempuan itu berbicara setelah aku<br>mengambil tas. Aku segera membalikkan badanku di saat telah menggendong tas pada<br>pundakku.<br>Kepalaku menoleh kesana-kemari, mencari objek sasaran ku, ke mana dia pergi?<br>Seharusnya jika dia pergi saat aku mengambil tas, punggungnya masih terlihat di sekitar sini,<br>tetapi, ini sama sekali tidak terlihat sosok sama sekali. Ah, mungkin tertutup oleh pepohonan.<br>Aku tidak ingin memikirkan ini terlalu pusing, dan segera kembali ke tempat awal.<br>\u201cSue temen koe Din, ngopo hayo?\u201d tanya Udin, dia berniat untuk menggodaku.<br>\u201cWeh, ora ngopo-ngopo aku,\u201d<br>Aku terdiam sebentar \u201cEh, tadi kalian ngeliat ada cewe pakai baju cokelat lewat ra?\u201d<br>tanyaku, aku memang tidak terlalu memikirkannya, tetapi hatiku tidak tenang. Bukankah hal<br>seperti ini sering terjadi? Karena hati dan otak, tidak berjalan searah.<br>Rino menggeleng<br>Dika menggeleng<br>Udin menggeleng<br>\u201cCewe apa e Din? Emange eneng penduduk neng kene?\u201d Tanya Rino yang ikut<br>kebingungan.<br>\u201cKurang tahu, aku juga awale mikir ngono kuwi,\u201d<br>\u201cEalah Din, palingan koe halusinasi kuwi, mergo kekeselen,\u201d ucap Rino.<br>Aku mengangguk, mungkin yang dikatakan Rino benar adanya, tapi tadi aku benarbenar melihat itu secara nyata, bahkan saat dia menatapku, itu terasa bukan semata-mata<br>halusinasi saja. Kami melanjutkan perjalanan, agar sampai pada pos peristirahatan tidak terlalu<br>malam.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p>\u201cPos Samarantau.\u201d Aku membaca tulisan yang berada pada papan kayu yang terpajang.<br>Akhirnya kini sampai pada pos peristirahatan. Keringat membasahi tubuhku dan teman-teman.<br>Matahari terlihat sudah hampir tenggelam, aku melihat benda kecil yang melingkar pada<br>pergelangan tanganku, sudah jam 5 sore. Sebentar lagi malam akan menyambut, dan tentu aku<br>beserta teman-temanku harus membangun tenda untuk istirahat malam ini. Kami membangun<br>tenda dengan mudah, jangan meremehkan anak pendaki, membuat tenda adalah hal yang<br>sangat mudah. Tidak membutuhkan waktu 30 menit, hanya dalam 19 menit, tenda berdiri<br>dengan sempurna.<br>\u201cAku keliling sekitar sek yo, golek kayu,\u201d ucap Rino<br>\u201cTak kancani No,\u201d tawarku<br>\u201cHallah, rasah Din, dewe wae kandel aku,\u201d<br>Aku terkekeh kecil \u201cYowis, hati-hati No,\u201d<br>\u201cHati-hati!\u201d ucap Udin dan Dika berbarengan, setelahnya mereka kembali meributkan<br>camilan yang dibawa.<br>Rino mengangguk dan pergi menjauh meninggalkan kami. Wajahku seketika pucat di<br>saat melihat sosok perempuan yang ku lihat di sumur tadi, berjalan mengikuti Rino. Perempuan<br>itu menoleh ke arahku, matanya membesar, seakan mengancamku kali ini. Aku langsung<br>mengalihkan pandanganku dengan perasaan cemas, takut jika Rino tidak bisa kembali dengan<br>aman ke tempat ini.<br>\u201cNgopo Din? Rupamu koyo habis lihat setan saja,\u201d ucap Dika, aku hanya membalasnya<br>dengan gelengan.<br>\u201cKoe kui lho, setane ki Dik,\u201d ucap Udin, setelahnya mereka kembali bertengkar.<br>Aku merebahkan tubuhku, beralaskan matras, dengan lipatan kedua tangan yang<br>menjadi bantal. Aku memejamkan mataku, matahari hanya tinggal seperempat lagi. Pikiranku<br>masih cemas, memikirkan Rino, mengapa perempuan itu mengikuti Rino? Jadi yang kulihat<br>tadi, bukanlah halusinasi belaka? Banyak sekali pertanyaan yang berputar mengelilingi<br>kepalaku, jika ini kartun, pasti di sekelilingku akan banyak burung-burung mengelilingi<br>kepalaku membawa papan yang bertuliskan isi pikiranku sejauh ini.<br>Suhu mulai menurun, suara jangkrik mulai terdengar jelas karena matahari sudah<br>menghilang, dan malam ini terasa sangat dingin. Rino belum juga kembali, yang otomatis kita<br>tidak bisa membuat bakaran karena tidak ada kayu. Padahal aku sudah berbalut tiga jaket, tetap<br>saja aku menggigil kedinginan.<br>\u201cRino iki ra balik-balik nyandi yo?\u201d tanya Udin kebingungan.<br>\u201cRa ngerti,\u201d jawab Dika<br>Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Udin, karena sejak tadi, aku memang<br>memikirkan ini. Hal yang aku takutkan sedari tadi sore. Kepalaku terus menoleh ke kanan dan<br>ke kiri, terus menunggu Rino datang. Berharap ia akan datang dengan selamat. Aku melihat ke<br>arah hutan, tempat tadi Rino pergi ke sana. Aku ingin menyusulnya, tetapi sinar kecil terlihat<br>dalam intra mataku. Lama-kelamaan, muncul Rino dari luar hutan membawa kayu, ia<br>mendekati ke tempat peristirahatan kami.<br>\u201cSue banget e No kamu, aku jadi khawatir sejak tadi,\u201d ucapku<br>Rino tertawa kecil \u201cHaha, sori yo, nek buat khawatir, iki wae aku tadi dibantuin le<br>nggolek kayu,\u201d<br>\u201cDibantu sopo koe ki No? Emange eneng sek tinggal neng sekitar kene?\u201d Tanya Dika<br>\u201cHelleh, kepo temen koe Dik.\u201d<br>Aku membantu Rino mengangkat kayu dan membuat api unggun kecil, untuk<br>menghangatkan tubuh. Aku terdiam, kepikiran dengan seseorang yang membantu Rino<br>mencari kayu, dia siapa? Apakah mungkin, yang membantu Rino, adalah perempuan yang<br>mengikuti Rino sejak tadi? Aku menjadi tak tenang, firasatku memang sudah buruk dari tadi.<br>Aku hanya memandangi wajah Rino, takut hal buruk akan terjadi padanya.<br>\u201cKenapa Din, lihat-lihat aku?\u201d Tanya Rino dengan nada mengejek<br>Aku menggelengkan kepalaku dan terkekeh kecil.<br>Udin dan Dika berbaring berpelukan satu sama lain di dekat api unggun, mereka<br>terkadang akur, kadang ribut. Aku mendekati mereka<br>\u201cDin, Dik, kalau tidur di dalam tenda saja,\u201d ucapku<br>Mereka terbangun, wajahnya terlihat lelah, aku menjadi tidak enak telah<br>membangunkan mereka, toh tidur di dalam tenda lebih enak daripada harus di luar tenda?<br>Mereka beranjak masuk ke dalam tenda dan mendahului untuk tidur. Rino menoleh ke arahku.<br>\u201cKoe ra ngantuk Din?\u201d<br>\u201cUrung,\u201d jawabku<br>\u201cMlebu ae, neng kene akeh nyamuk,\u201d ajak Rino<br>Aku mengangguk, dan masuk ke dalam tenda bersama Rino. Kami membangun 2 tenda,<br>Udin tidur bersama Dika, dan aku bersama dengan Rino. Aku dengannya berbaring di dalam<br>tenda, aku tentu masih memikirkan hal-hal aneh yang ku temui sejak tadi. Apakah aku harus<br>bertanya pada Rino? Waktunya tepat atau tidak ya kira-kira? Aku sangat penasaran, tetapi di<br>satu sisi lain, aku tidak enak pada Rino untuk menanyakan hal ini.<br>Aku menoleh ke samping, melihat punggung tubuh Rino yang membelakangi ku, aku<br>terduduk, mencoba untuk bertanya padanya.<br>\u201cRin.\u201d<br>Tidak ada sahutan, aku mengintip melihat wajahnya, matanya terpejam, ternyata ia<br>sudah tidur. Tak apa lah, lagi pula dia sepertinya kelelahan habis mencari kayu tadi sore. Aku<br>kembali berbaring, mencoba mengubur pertanyaan yang hinggap di kepalaku agar bisa tidur<br>dengan nyenyak dan melanjutkan perjalanan di esok hari.<br>Hari semakin gelap, suara di dalam tenda di dominasi kan oleh suara jangkrik yang<br>bersahutan satu sama lain, ditambah juga suara seseorang yang sedang bergesekan dengan<br>tenda. Aku membuka mataku, bukan, tadi aku tidak tidur, hanya memejamkan mata dengan<br>pikiran yang masih berjalan. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Rino? Aku langsung<br>membalikkan badanku menghadapnya.<br>Kosong, tidak ada Rino di sampingku. Aku terduduk, melihat bayangan Rino berjalan<br>menjauhi tenda, aku segera keluar dari tenda dan mengikutinya dengan membawa senter di<br>tanganku sebagai pencahayaan. Ia memasuki hutan yang tadi sore digunakannya untuk mencari<br>kayu, aku kebingungan, kenapa Rino keluar dari tenda di malam hari seperti ini dan pergi ke<br>hutan? Bukannya tadi dia sudah tidur? Entahlah, pikiranku sudah kacau sejak tadi.<br>Aku melihat benda yang ada pada tanganku, sekarang sudah jam 24.00, tepat pada<br>tengah malam. Suara jangkrik semakin kencang terdengar di telingaku. Hawa aneh itu, kini<br>mengelilingiku kembali. Apakah mungkin, Rino pergi tengah malam seperti ini untuk menemui<br>perempuan aneh itu? Bisa saja kan? Aku sudah memiliki perasaan tidak enak setelah bertemu<br>dengan perempuan itu di toilet kemarin, dan ia menghilang begitu saja.<br>Rino berhenti, alhasil aku juga menghentikan langkahku, aku bersembunyi dibalik<br>pohon yang sangat besar, ia terlihat sedang berbicara dengan seseorang. Tapi siapa? Aku<br>memfokuskan penglihatanku dan melihat seseorang yang sedang bersama Rino. Mataku<br>membesar, setelah melihat yang bersama dengan Rino, ternyata perempuan yang kulihat tadi.<br>Sedang apa mereka? Berdua di tengah malam seperti ini? Mereka masuk ke dalam gubuk yang<br>berada pada tengah hutan itu. Pikiranku tidak tenang, APA YANG INGIN DILAKUKAN<br>RINO DENGANNYA?!! Aku mendekati gubuk itu, terkejut melihat Rino yang sedang<br>melakukan hal yang tidak senonoh itu, bersama dengan\u2026<br>Perempuan itu.<br>ENDING<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>GUNUNG SLAMETOleh Sitimdana\u201cWuedan kamu No, malah ngajak mendaki neng Gunung Slamet, medeni lho iku,buanyak mitos neng kono,\u201d ucapku dengan membesarkan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"no_sidebar_full_width","colormag_page_sidebar_layout":"no_sidebar","footnotes":""},"categories":[13,14],"tags":[],"class_list":["post-2056","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-e-pust-wira-mandala","category-berita-pustaka"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2056","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2056"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2056\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2060,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2056\/revisions\/2060"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2056"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2056"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2056"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}