{"id":2154,"date":"2025-02-10T05:44:58","date_gmt":"2025-02-10T05:44:58","guid":{"rendered":"http:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/?p=2154"},"modified":"2025-02-10T05:44:59","modified_gmt":"2025-02-10T05:44:59","slug":"berwawasan-peduli-lingkungan-dansimulasi-pemadaman-api-sederhana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/2025\/02\/10\/berwawasan-peduli-lingkungan-dansimulasi-pemadaman-api-sederhana\/","title":{"rendered":"BERWAWASAN PEDULI LINGKUNGAN DAN<br>SIMULASI PEMADAMAN API SEDERHANA"},"content":{"rendered":"\n<p>Hari efektif terakhir di pekan pertama Februari ditutup dengan dua agenda penting yang<br>dirancang secara komprehensif, yakni ajakan berwawasan peduli lingkungan dan simulasi<br>pemadaman api sederhana. Kegiatan yang masih dalam barisan program Adiwiyata sekolah<br>ini menyasar semua siswa. Perlu kerja-kerja aktif untuk memicu daya sadar siswa agar<br>senantiasa menjaga kebersihan dan kerapihan di sekitaran sekolah.<br>Pukul 08.30 tepat siswa diminta meninggalkan kegiatan di dalam kelas. Matahari yang sudah<br>terik tidak menghalangi para siswa berbaris di lapangan basket sekolah. Titik aksi memang<br>harus dilaksanakan di tempat terbuka karena akan melibatkan api di salah satu kegiatan.<br>Penanggungjawab Kesiswaan mengambil komando untuk mengarahkan siswa agar berbaris<br>rapi.<br>Setelah semua siswa berdiri rapi, pembawa acara mulai memandu acara. Tanpa berlama-lama<br>agenda pertama langsung dimulai. Salah satu skema pada program Adiwiyata adalah<br>kampanye laku peduli lingkungan. Mengajak warga sekolah seminimalnya mau mengutip<br>sampah yang terlihat tidak di tempat semestinya. Mudah diucapkan memang tapi terkadang<br>sulit pelaksanaannya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Siswa bermental Adiwiyata<\/strong><br>Agenda pertama diisi dua pembina kader Sie Kampanye, Pak Rahmat dan Ibu Amin. Untuk<br>mengurangi rasa lelah siswa diminta melantai sambil khidmat mengikuti rentetan acara. Pak<br>Rahmat membuka dengan penuh semangat serupa ada api berbentuk sayap merentang dari<br>punggungnya. Enam informasi penting yang harus dituntaskan dalam 45 menit ke depan.<br>Siswa perlu diingatkan berulang kali permasalahan seleksi sampah. Kotak sampah sudah<br>tersedia di depan kelas masing-masing. Ada 21 ruang, itu berarti ada tempat sampah<br>berjumlah sama yang bisa digunakan secara leluasa oleh siswa membuang bekas makan atau<br>minum mereka. Belum lagi tempat sampah tambahan di beberapa titik di sekitar ruang guru.<br>Pak Rahmat dengan lantang mengategorikan tiga jenis sampah yang sudah dipisahkan<br>kotaknya: Organik, non-organik, dan inorganik. Di tengah lapangan telah disiapkan alat peraga<br>berupa tiga kotak sampah dan berbagai jenis sampah. Seorang siswa yang punya nyali diminta<br>maju untuk memilah dan memasukkan sampah ke dalam kotak sesuai peruntukkannya. Di titik<br>ini, Ibu Amin ikut serta menjelaskan lebih lanjut pentingnya memilah sampah..<br>Peralatan makan dan minum milik kantin adalah isu lain yang perlu ditangani. Banyak siswa<br>yang lahap menyantap nasi dan beraneka lauk di atas piring lalu diselesaikan dengan segelas<br>es teh. Namun, ada-ada saja yang hilang kesadaran mengembalikan wadah makan dan minum<br>itu ke pemilik. Sebagian hanya meninggalkannya di meja atau sekadar memasukkannya ke<br>wastafel. Aturan ini ditegakkan untuk mengatasi kebiasaan buruk tersebut. Untuk menjaga<br>ketertiban, siswa diimbau tidak membawa peralatan makan dan minum ke dalam kelas dan<br>hanya menikmati kuliner kantin di sana. Semuanya harus tuntas di kantin. Pantang balik kanan<br>sebelum kenyang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Darurat sampah plastik<\/strong><br>Di sekolah terdapat tiga lokasi khusus untuk menampung botol plastik bekas. Sampah bekas<br>minuman kemasan ditampung di wadah khusus yang lebih besar dari tempat sampah biasa.<br>Tujuannya jika sudah penuh akan didaur ulang atau diserahkan pada pengepul. Namun, situasi<br>ini semakin mengkhawatirkan. Limbah botol plastik semakin tidak terkendali. Rumah botol itu<br>bisa penuh hanya dalam lima hari efektif. Ini menunjukkan bahwa konsumsi siswa terhadap<br>botol sekali pakai sudah mencapai puncaknya.<br>Untuk mengatasi masalah ini, Pak Rahmat menegaskan bahwa pembelian air minum kemasan<br>harus dihentikan. Koperasi sekolah yang selama ini menyediakan air mineral akan beralih ke<br>galon sebagai alternatif. Siswa dapat membeli galon secara swadaya dan menggunakannya<br>bersama. Solusi ini lebih hemat dan memperkuat semangat gotong royong. Beralih dari botol<br>sekali pakai ke galon berarti siswa perlu memiliki wadah minum sendiri.<br>&#8220;Selain membawa tumbler untuk memudahkan kalian minum dan isi ulang kapan saja,<br>sekalian bisa membawa kotak makan sendiri. Jika belum diisi, kalian bisa membelinya di kantin<br>dan memilih makanan kesukaan kalian di sana,&#8221; tegas Pak Rahmat.<br>Terobosan ini setidaknya dapat mengurangi permasalahan botol plastik bekas yang melimpah.<br>Penumpukan sampah plastik yang berlebihan tentu saja bertentangan dengan semangat<br>Adiwiyata. Para wali kelas akan mengontrol kedisiplinan siswa dalam membawa tempat<br>makan dan minum sendiri<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perilaku hemat air dan energi<\/strong><br>SMA Negeri 2 Playen berada di lokasi yang memiliki persediaan air melimpah. Setidaknya,<br>kebutuhan air untuk kamar mandi, penyiraman tanaman, dan wudhu dapat terpenuhi.<br>Masalah air biasanya berkaitan dengan kebocoran keran, pipa pecah, atau saluran tersumbat.<br>Saat air melimpah, sering kali muncul perilaku boros dan kurang menghargai keberadaannya.<br>Air sering kali disia-siakan dan dibiarkan terbuang begitu saja. Hal ini terjadi karena kepedulian<br>kita terhadap air sering kali hanya sebatas kata-kata, tanpa tindakan nyata.<br>Pak Rahmat dan Ibu Amin mengajak para siswa untuk lebih bijak dalam menggunakan air agar<br>mereka memiliki kesadaran untuk menjaga ketersediaannya. Gunakan air secukupnya saat<br>membasuh tangan atau tubuh. Jika terdeteksi keran atau pipa pecah segera melapor agar ada<br>tindakan membenahi segera. Pun, saat buang hajat air bisa diirit. Tatkala mensucikan diri<br>menjelang salat, keran air tidak perlu disetel terlalu deras. Secukupnya saja.<br>Perilaku lain yang perlu mendapat perhatian lebih lama adalah kebiasaan meninggalkan<br>ruangan tanpa mematikan kipas angin dan AC. Jika ditelisik lebih jauh, kebiasaan ini terjadi<br>karena adanya sikap saling mengharapkan. Muncul pemikiran, &#8216;Biar orang lain saja yang<br>mematikan.&#8217; Karena semua orang berpikiran sama, akhirnya pendingin ruangan tetap menyala<br>meski ruangan sudah kosong. Penting untuk ditekankan bahwa setiap penghuni ruangan<br>memiliki tanggung jawab yang sama untuk mematikan perangkat listrik, termasuk lampu dan<br>proyektor. Setidaknya, siswa saling mengingatkan di awal dan akhir kegiatan.<br>Pamungkas agenda pertama ditutup dengan mesra oleh Ibu Amin. Beliau merangkum poin<br>poin yang sebelumnya sudah terjabarkan oleh Pak Rahmat. Siswa sudah menepi mencari area<br>lebih teduh untuk tetap fokus mendengarkan. Semua nasihat dan himbauan sudah<br>disampaikan, tersisa praktik baik yang mesti dijalankan dengan benar.\\<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kebakaran dan cara memadamkan<\/strong><br>Api dapat muncul secara tiba-tiba di lokasi yang tidak terduga. Maka dari itu perlu<br>pengetahuan untuk menghadapinya sebelum api membesar dan menjalar ke mana-mana.<br>Langkah mitigasi dasar adalah memastikan setiap warga sekolah memiliki pengetahuan dalam<br>memadamkan api. Tentu, hal ini harus didukung dengan peralatan sederhana untuk<br>membantu proses pemadaman..<br>Sesi kedua dipimpin oleh dua sekuriti sekolah yang telah mengikuti pelatihan pemadam<br>kebakaran. Semua alat peraga sudah disiapkan di lapangan, termasuk drum besi sebagai pusat<br>api, karung goni basah, dan APAR (Alat Pemadam Api Ringan).<br>Lima belas menit pertama diisi dengan penjelasan tentang masing-masing alat dan cara<br>menggunakannya dengan benar. Semua siswa menyimak dengan saksama. Materi ini sangat<br>penting, sehingga setiap gerakan harus diperhatikan dengan baik. Setelah itu, simulasi<br>menghadapi api berkobar dimulai. Karena tidak semua tempat memiliki APAR, alternatif yang<br>bisa digunakan adalah kain tebal yang dibasahi air. Pada praktik kali ini, peserta menggunakan<br>karung goni.<br>\u201cYang paling utama saat menghadapi api adalah ketenangan. Jika rasa tenang tidak bisa<br>dicapai maka akan sulit menjinakkan kobaran.\u201d Pesan salah satu sekuriti yang<br>mendemonstrasikan pemadaman api menggunakan karung.<br>Karung goni basah sudah terlentang di atas lapangan bersemen. Sang instruktur perlahan<br>mengangkat karung coklat itu, meremas kuat kedua ujungnya. Sesuai instruksi awal, seluruh<br>bagian tangan harus dibalut dengan lipatan karung untuk melindungi dari panas api.<br>Sementara itu, tong penampung api telah menyala terang sejak tadi. Kembali diingatkan<br>bahwa ketenangan adalah kunci. Dengan langkah mantap, instruktur semakin mendekati<br>tong. Dengan nyali yang matang, karung goni segera menutupi permukaan tong. Udara di<br>dalam tong semakin menipis, membuat api perlahan padam. Asap putih yang muncul<br>menandakan api telah padam sepenuhnya.<br>Momen yang paling dinantikan adalah aksi memadamkan api dengan APAR. Banyak siswa<br>mungkin belum pernah melihat langsung bagaimana tabung merah terang ini digunakan. Rasa<br>penasaran membuat mereka tetap antusias menyaksikan. Di gedung-gedung milik<br>pemerintah, seperti sekolah, keberadaan APAR wajib hadir. Potensi munculnya api bisa kapan<br>saja, bahkan di titik tak terlihat oleh perhatian (blind spot). Warga sekolah setidaknya perlu<br>tahu cara menggunakannya, meskipun saat kebakaran terjadi, tidak semua harus langsung<br>turun tangan.<br>Ada dua siswa yang menawarkan diri unjuk aksi langsung pasca sekuriti mempraktikkan cara<br>penggunaan APAR yang benar. Terlihat mudah tapi ada tata tertib yang mesti diikuti agar api<br>bisa dikendalikan. Siswa dengan mudah dapat melenyapkan api menggunakan APAR. Meski<br>pengetahuan ini sudah tertanam di dalam kepala, kita tetap bersemoga APAR tidak pernah<br>digunakan di sekolah.<br>Pelajaran memadamkan api memang tidak terselip dalam pembelajaran di dalam kelas.<br>Sehingga butuh waktu khusus mengadakan simulasi pemadaman api. Langkah awal<br>menghadapi api adalah pengetahuan dan membangun kepercayaan diri bahwa api bisa<br>ditaklukkan dengan sedikit keberanian.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery columns-3 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><ul class=\"blocks-gallery-grid\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_ee9cc77e-1024x576.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2155\" data-full-url=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_ee9cc77e.jpg\" data-link=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/?attachment_id=2155\" class=\"wp-image-2155\" srcset=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_ee9cc77e-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_ee9cc77e-300x169.jpg 300w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_ee9cc77e-768x432.jpg 768w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_ee9cc77e-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_ee9cc77e-2048x1152.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_3032bb82-1024x576.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2156\" data-full-url=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_3032bb82.jpg\" data-link=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/?attachment_id=2156\" class=\"wp-image-2156\" srcset=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_3032bb82-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_3032bb82-300x169.jpg 300w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_3032bb82-768x432.jpg 768w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_3032bb82-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.18_3032bb82-2048x1152.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"581\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.17_da6d9e6e-581x1024.jpg\" alt=\"\" data-id=\"2157\" data-full-url=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.17_da6d9e6e.jpg\" data-link=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/?attachment_id=2157\" class=\"wp-image-2157\" srcset=\"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.17_da6d9e6e-581x1024.jpg 581w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.17_da6d9e6e-170x300.jpg 170w, https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-09-at-17.20.17_da6d9e6e.jpg 720w\" sizes=\"auto, (max-width: 581px) 100vw, 581px\" \/><\/figure><\/li><\/ul><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari efektif terakhir di pekan pertama Februari ditutup dengan dua agenda penting yangdirancang secara komprehensif, yakni ajakan berwawasan peduli lingkungan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-2154","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2154"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2154\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2158,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2154\/revisions\/2158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sma2playen.sch.id\/wpduplay\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}